Pages

Jadi Pemuda Keren Tanpa Merokok

Menjadi pemuda dan pelajar yang keren tanpa rokok, itu sebuah cuplikasn posting status Facebook dari seorang sahabat, ukhti Yuli, salah seorang pengajar di SMP Negeri 1 Mande.

Ya, mengenai rokok dan perilaku merokok, termasuk satu hal yang terus saya kampanyekan kepada peserta didik, kapanpun ada kesempatan bertatap muka. Berbagai upaya dilakukan untuk menyadarkan mereka tentang esensi merokok adalah kedholiman, selain merusak kesehatan.

Sejatinya upaya ini dilakukan secara komunal, bekerjasama antar semua warga sekolah.

Bagi para remaja, yu kerenkan dirimu dengan menjauhi rokok. Insya Allah hidupmu berkah!

My Movement, Yuk Menjadi BUNGA DAKWAH !

Ribuan remaja yang masih tertanam dalam hatinya semangat keislaman, mengikuti ajang My Youth Movement (MYM) yang dirancang oleh Lajnah Dakwah Sekolah DPP HTI, yang digelar di lebih dari 40 kota di Indonesia.

Sajian dokusinema tentang dunia remaja yang dipadukan dengan talkshow interaktif serta motivasi mampu menyadarkan para remaja. Selain tambah wawasan Islam, mereka juga tahu kondisi remaja dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Informasi yang memancing alam pikiran mereka untuk mencari tahu ada apa dengan kehidupan remaja yang penuh problematika.

Mereka sangat faham dengan perkataan Imam Syafi'i, " Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa, karena apabila dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir dalam kehidupan."

mereka juga membaca tulisan seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini, " Terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini."

kemauan yang kuat sudah tentu tidak datang dengan sendirinya. Tapi dibangun dari sebuah pemahaman yang menyulap keraguan remaja menjadi kebulatan tekad. Semangat remaja menjadi tidak setengah-setengah. Untuk melahirkan kemauan yang keras, mau tidak mau remaja mesti bergerak aktif dalam kegiatan penuh manfaat. Karena, berdiam diri hanya akan membekukan hati dan memasung langkah.

Maka dari ajang My Movement ini terdengar teriakan lantang mengajak remaja untuk menjadi " BUNGA DAKWAH", yang kesehariannya dekat dengan BUKU, NGAJI, dan DAKWAH. Tiga kunci kebangkitan remaja demi memantaskan diri menjadi pemimpin masa depan. Allahu Akbar !

Liputan Media Umat

Pendidikan VS Kebijakan Negara

Dunia pendidikan ingin mewujudkan karakter anak didik yang baik. Namun justru anak didik dan remaja, menghadapi paradoks ketika menemukan fenomena yang berbeda di hadapannya.

Saat sekolah mengajarkan kepada sisiwanya untuk menjauhi seks bebas, negara malah mengkampanyekan kondom. Bahkan ada ATM kondom yang bisa diakses oleh semua kalangan, termasuk remaja. Negara pun membiarkan pusat-pusat hiburan malam yang menyuguhkan pornoaksi dan pornografi berkembang.

Saat remaja dilarang melakukan gaul bebas, negara membebaskan media massa khususnya televisi, menayangkan tayangan yang mengandung pornografi dan pornoaksi. Film-film impor pun membanjiri negeri ini dengan sensor yang minim.

Saat sekolah menahan anak didiknya untuk menahan diri dari menyaksikan produk pornografi, negara malah membebaskan internet kepada masyarakat untuk diakses. Kalaupun ada proteksi sangat minim. Walhasil, anak-anak justru mendapatkan konten pornografi dan pornoaksi saat mereka tidak ada di sekolah.

Saat pegiat antipornografi dan anti pornoaksi menginginkan larangan itu dalam bentuk undang-undang, negara malah melegalkan pornografi dan pornoaksi lewat undang-undang. Negara hanya mengkategorikan pornografi dan pornoaksi jika itu diluar seni dan budaya. Padahal, justru pornografi dan pornoaksi inilah yang berlindung di balik seni dan budaya.

Saat muslim mendesak negara menerapkan aturan Islam sebagai standarisasi perilaku, negara justru memilih sekulerisme dan liberalisme yang merelatifkan kebenaran sebagai standarnya.

( Sumber : Media Umat )

Bila Guru Merokok, Bagaimana dengan Muridnya?

Survey kementerian kesehatan tentang perokok mencengangkan. Perokok di Indonesia cukup tinggi, dan 63 persennya adalah pemuda/remaja, termasuk di dalamnya para pelajar, dari mulai jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Survey tersebut memang menggunakan sampel, namun bila dilihat lebih jauh, kemungkinan angka tersebut jauh lebih kecil dibanding realitas sebenarnya.

Banyak faktor yang memberikan sumbangsih peningkatan jumlah perokok remaja. Iklan rokok yang "jor-joran" di berbagai media, cukup berpengaruh secara signifikan. Belum lagi sponsoring oleh perusahaan rokok terhadap event-event besar dalam dunia olahraga dan musik.

Namun, bila kita perhatikan lebih seksama, ada faktor dominan yang menyebabkan angka perokok aktif ini bertambah, terutama kalangan remaja, yaitu faktor " keteladanan".

Keteladanan siapa?

Pertama, keteladanan orang tua ( terutama ayah). Sang ayah merokok dengan nikmatnya di hadapan anak laki-lakinya. Lambat laun ini menjadi contoh yang akan ditiru anaknya. Anaknya akan berfikir, siapa yang akan melarangnya merokok, ayah juga melakukan hal yang sama.

Kedua, keteladanan atau contoh dari ustad/kiai/ atau al mukarom mubaligh. Mereka semua adalah guru dan panutan umatnya. Ketika mereka melakukan sesuatu, termasuk merokok, ini akan menjadi semacam "legalisasi" bagi umatnya atau santrinya untuk menirunya. "Wong" pak ustad juga merokok, berarti boleh bagi si santri untuk melakukan hal yang sama.

Ketiga, keteladanan guru. Dalam bahasa "kirata" atau dikira-kira tapi nyata, sebuah perbendaharaan bahasa Sunda, guru itu "digugu" dan "ditiru". Ingat, menurut salah seorang pakar pendidikan, anak itu peniru ulung. Ketika guru merokok di depan siswa atau muridnya, maka kemungkinan besar muridnya akan meniru perbuatan tersebut. Dan pada saat yang sama, sang guru tak punya hak sedikitpun untuk melarang muridnya merokok, bahkan di sekolah.

Ada kejadian lucu juga, ketika sekumpulan anak di sebuah sekolah dasar di Cianjur, rame-rame merokok di sekolah. Tentu ini diketahui oleh gurunya, yang sontak memanggil dan memarahi murid-muridnya yang merokok tersebut, bahkan memberikan sanksi.

Perbuatan guru tersebut, benar dalam koridor menegakan aturan bahwa sekolah itu bebas asap rokok. Namun, hal demikian menjadi sangat salah dilakukan sang guru, mengingat ia pun adalah perokok yang tidak sanggup menahan "syahwat" merokoknya, bahkan di hadapan murid-muridnya.

Sebuah ironi dalam dunia persekolahan kita. Sekolah yang harusnya menjadi pusat budaya, pusat pembentukan karakter, namun ternyata dikotori oknum guru ketika memperlihatkan contoh tak terpuji di hadapan muridnya.

Jadi, bila guru merokok, muridnya pun kemungkinan besar merokok pula. " Guru kencing berdiri, murid kencing berlari".

Orang Tua Juga Bisa Durhaka Kepada Anaknya

Ustadz Muslih Abdul Karim, MA menceritakan, pada suatu hari seorang laki-laki menemui Umar bin Khaththab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya. Setelah itu anak tersebut bertanya, " Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orang tuanya?"
Umar menjawab, "Benar".
" Apa hak anak?" tanya sang anak. Dijawab Umar, " Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarinya al-Quran."
Anak itu berkata, " Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak satupun melakukan apa yang tuan sebutkan. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju'lan (tikus atau curut), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al Qur'an."
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata, " Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu."

1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan

(Diaf.web.id) Alkisah ada seorang santri yang cerdas dan menjadi
kesayangan kiainya. Suatu ketika ia mendapat beasiswa untuk belajar di
Amerika. 6 tahun berlalu, selesailah kuliahnya dan ia pulang ke
rumahnya.

Sikapnya sedikit berubah. Ia menjadi lebih "pede" dan setiap
obrolannya diselipi bahasa-bahasa asing, agar terlihat keren. Lama di
rumah, rupanya ia bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk "sowan" ke kiai,
gurunya dulu. Sambil membawa misi tertentu, berupa pertanyaan untuk
menguji gurunya.

Tiba di rumah gurunya, ia langsung mengajukan pertanyaan. " Mama,
mohon izin saya mengajukan pertanyaan yang sulit!". Gurunya menjawab,
" Ya silakan, insya Allah aku bisa menjawabnya!". Si santri heran, "
Mama yakin bisa menjawabnya, padahal profesor pun tidak bisa
menjawabnya". Sang kiayi lekas menjawab, " Silakan coba ungkapkan apa
pertanyaanmu?".

Si santri mengungkapkan 3 pertanyaan :
1. Apakah Allah itu ada? Kalau ada di mana tempatnya?
2. Apa takdir itu?
3. Setan terbuat dari api, dan Allah akan menyiksanya dengan neraka,
yang juga terbuat dari api. Kalau begitu sia-sia, karena dua-duanya
terbuat dari unsur yang sama.

Belum juga kering mulut si santri,
"plak" sang kiai menampar pipi si santri dengan keras. " Mama, kenapa
menampar saya?" tanya si santri. " Bukan menampar, nak. Itu adalah
jawaban dari semua pertanyaanmu", jawab sang kiai. Si santri diam, tak
mengerti ucapan gurunya.

Sang kiai kemudian berkata, " Kamu sakit tadi saya tampar?". " Iya
kiai, saya sakit sekali." Kiai melanjutkan, " kalau kamu sakit, coba
tunjukkan kepadaku wujud rasa sakit itu!". Si santri menjawab, " Sakit
itu tidak kelihatan mama". " Dan itu jawaban pertanyaanmu yang
pertama. Allah itu ada, walau kita tidak melihatnya. Kamu tidak bisa
melihat wujudnya rasa sakit, apalagi melihat Allah pencipta rasa
sakit."

Sang kiai terus berkata, " Kamu bermimpi tidak hari ini aku tampar?".
"Tidak, mama!" jawab si santri. " Dan itulah takdir. Sesuatu yang
terjadi pada kamu, walau kamu tidak mengharapkan atau mengetahui
kedatangannya."

" Pipi kamu terbuat dari apa?" tanya sang kiai. "Kulit, mama!". "
Tangan saya yang tadi menamparmu, terbuat dari apa?" " Sama, mama.
Keduanya terbuat dari kulit."" Pipi kamu dan tanganku sama terbuat
dari kulit, dan kamu merasakan sakit saat kutampar. Nak, sangat mudah
bagi Allah untuk menjadikan setan itu merasa sakit ketika disiksa api
neraka, walau keduanya terbuat dari unsur yang sama."

Si santri diam tafakkur. Benar juga katanya dalam hati. Tiga
pertanyaan yang sulit tersebut dengan mudahnya dijawab oleh gurunya.

[Hikmah Kisah] Bila Angin Berlomba

Alkisah, " sekelompok" angin melihat seekor monyet di cabang sebuah
pohon tinggi dan besar. Angin tornado, angin badai, angin puting
beliung, dan angin semilir, berunding untuk berlomba. Siapa yang bisa
menjatuhkan sang monyet, ialah pemenangnya.

Maka dimulailah perlombaan ini. Pertama sang tornado bertiup dengan
kencang ke arah pohon yang dinaiki monyet. Namun, sang monyet tidak
jatuh, makin kencang angin, makin eratlah ia memeluk pohon.

Giliran angin topan bertiup lebih kencang. Namun, sang monyet makin
erat memeluk pohon.

Tampillah angin puting beliung, bertiup memutar menerbangkan apa yang
ada. Namun hasilnya sama dengan yang terjadi sebelumnya. Mereka gagal
menjatuhkan monyet.

Terakhir giliran angin semilir. Dengan tenang dan perlahan ia bertiup
sepoi-sepoi ke arah sang monyet. Apa yang terjadi? Sang monyet rupanya
merasa mengantuk, terbuai tiupan angin semilir, dan akhirnya tertidur
dan....plak jatuh. Maka sudah jelas, pemenangnya sang angin semilir.

Cerita di atas, fiktif, imajiner. Namun setidaknya memberikan
ibrah/pelajaran, bahwa kelembutan, keramahan, dan ketenangan,
menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam menyelesaikan permasalahan,
dibanding kekerasan dan ketergesaan.

Semoga bermanfaat!

Gampang-gampang Susah Ya Jadi Guru itu...

Kita mungkin sering mendengar frasa, " Guru kencing berdiri, murid
kencing berlari". Sebuah frasa yang memberikan gambaran, bahwa peserta
didik akan meniru apa yang dilakukan gurunya. Tak heran, bila
dikatakan bahwa anak itu peniru ulung. Dalam literatur Sunda dikatakan
bahwa GURU itu " digugu jeung ditiru" ( dipatuhi dan diteladani).
Artinya sama, guru adalah teladan bagi muridnya.

IDEALITAS dan REALITAS

IDEALITAS #1
Bahwa guru adalah sosok yang amat berjasa dalam perjalanan hidup
seseorang, adalah benar tak terbantahkan. Ia menjadi semacam lentera
ilmu bagi anak didiknya. Dalam posisi ini, guru dituntut untuk selalu
"mengupdate" keilmuan dan wawasannya. Ia menjadi sosok haus belajar
dan haus ilmu.

REALITASNYA : banyak guru yang terlena dalam status quo. Merasa diri
bisa karena bertahun-tahun mengajar kelas yang sama dengan materi yang
sama. Ia tidak memperbaharui cara mengajarnya, cara pendekatan dengan
murid, dan tidak menjadi agen perubahan. Padahal pemerintah sudah
mensyaratkan, guru itu harus SARJANA, dalam bahasa India, SRI JANHA
yang artinya Mujadid, atau pembaharu.

IDEALITAS #2
Bahwa guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru. Segala
perilakunya menjadi panutan dan rujukan murid dan masyarakat. Ia
menjadi teladan dalam kehidupan.

REALITASNYA : Na'udzubillah, banyak kasus asosial yang dilakukan guru
terhadap muridnya, dalam berbagai bentuk. Banyak pula kasus negatif
yang melibatkan guru, baik dengan anak didiknya maupun dengan
masyarakat.

IDEALITAS #3
Bahwa status guru itu melekat pada diri guru, baik ketika ia di
sekolah maupun di masyarakat. Masyarakat menganggap dan menyebut
seseorang "guru", kapanpun dan di manapun. Artinya, seorang guru
adalah tetap guru di mana saja dan kapan saja, walaupun di dunia maya.

REALITASNYA : saya melihat banyak guru, misalnya guru akhwat, yang
ketika di sekolah ia berjilbab, aurat tertutup, bahkan menyuruh
muridnya berbuat seperti itu. Namun ketika di luar jam sekolah,
kembali mempertontonkan auratnya.

Guru ikhwan, sangat marah ketika muridnya merokok di sekolah. Namun ia
dengan penuh kenikmatan, menghisap asap rokok, bahkan di depan
muridnya.

Di dunia media sosial, semacam Facebook, terkadang kita menemukan
"status" nyeleneh, kurang bermakna, dan kurang patut keluar dari
"mulut" atau "tulisan" seorang guru.

Yups, semua opini di atas mungkin ada yang membantah. Namun, biarlah
semua bergulir. Semua berjalan dengan satu tujuan, mempersembahkan
yang terbaik bagi anak bangsa.

Kurikulum yang berubah, atau kembali ke kurikulum sebelumnya, menurut
saya tidak masalah. Sehebat apapun kurikulum, bila gurunya tidak
berubah mindset, keilmuan, dan visi mendidiknya, menjadi sia-sia.

Ternyata, gampang-gampang susuah ya jadi guru itu. Gampangnya, seorang
yang akhlaknya kurang baikpun, bila kualifikasi akademisnya sesuai,
bisa saja jadi guru. Susahnya, jadi guru bukan prestise, namun
tanggungjawab berat bila dilakoni dengan ikhlas.

Kelemahan-kelemahan Sekolah Boarding School

Kalau disodorkan pilihan untuk tempat belajarnya si buah hati, antara sekolah biasa dengan sekolah " boarding school" atau sekolah berasrama, insya Allah saya akan pilih pilihan sekolah yang kedua. Banyak keuntungan dan keunggulan dari sekolah boarding school, sebagaimana pernah saya kupas di blog ini pada artikel .

Di balik keunggulan-keunggulan di atas, " boarding school" juga menyisakan kelemahan-kelemahan, yang mengganggu ritme dan gairah penyelenggaraan boarding school. Kesimpulan ini saya dapatkan dari kunjungan ke beberapa " boarding school" di daerah Bandung dan Cianjur. Tentu bersifat opini, namun setidaknya menjadi PR bagi stakeholder penyelenggara boarding school.

Beberapa kelemahan yang saya temui antara lain :

Kelemahan # 1
KURANGNYA KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK

Umumnya sekolah  " boarding school" mensyaratkan pembiayaan yang besar bagi peserta didik. Dana ini dipergunakan untuk memenuhi segala keperluan peserta didik selama bersekolah di tempat tersebut. Mulai dari mencuci, masak, dll, sudah dilayani dan dipenuhi oleh penyelenggara. Peserta didik hanya fokus untuk menimba ilmu. Namun, ternyata, menurut saya, justru hal demikian menjadi pemicu timbulnya ekses negatif. Anak menjadi "manja", segala dilayani, tahu beres, dan segala mengandalkan orang lain. Anak kurang terdidik untuk mengurus dirinya sendiri, bahkan untuk hal terkecil, mereka kurang terlatih.

Kelemahan #2
TERLATIH HIDUP MEWAH
Pembiayaan besar dari " boarding school" memang wajar. Pihak penyelenggara berusaha membuat segala fasilitas kenyamanan bagi peserta didik agar betah dalam belajar. Mulai dari penataan ruangan yang full AC, fasilitas audio visual, dll yang serba mumpuni. Harapannya, peserta didik lebih fokus dalam belajar dengan segala kenyamanan ini. Dari sudut pandang lain, ternyata hal ini menimbulkan ekses negatif juga. Peserta didik menjadi terbiasa hidup mewah, di tempat mewah, dan jauh dari kesederhanaan. Lebih jauh lagi, ditakutkan, dalam kehidupan berikutnya, mereka tidak siap menjalani hidup yang berbeda dengan ketika ia menuntut ilmu di sekolah yang serba "wah".

Dua kesimpulan di atas, sekali lagi, opini saya. Namun sebagai penggiat dalam dunia pendidikan, tetap saja saya merasa khawatir dengan berbagai fenomena yang terjadi dalam dunia edukasi. Ya..semoga saja ini menjadi bahan evaluasi dan introsfeksi.
 

Menjadikan Ngeblog Lebih Mudah dan Sederhana

Kegiatan "blogging" atau ngeblog lebih sederhana dan tentunya
menyenangkan, menjadi salah satu upaya yang terus saya lakukan.
Tulisan ini merupakan sebuah refleksi dari pengalaman selama ini yang
saya jalani dalam dunia ngeblog.

Sebagai sebuah wahana kreativitas, ngeblog memerlukan 'ilmu'
tersendiri. Semua awalnya sulit, kadang gagal. Namun dengan banyak
belajar dan selalu mencoba, lambat laun keterampilan dalam ngeblog
makin terasah dan matang. Di dunia maya, banyak sekali tutorial
blogging dari para master yang sudah berhasil. Semua mempunyai warna
tersendiri, keunikan dan gaya yang khas. Dari mereka kita belajar, dan
akhirnya kita akan menemukan gaya kita sendiri dalam blogging.

Setelah sekian lama berkutat di dunia "blogging", alhamdulillah
saat-saat ini saya merasakan kebahagiaan dalam beraktivitas yang satu
ini. Bukan karena materi, sebab tujuan ngeblog yang saya lakukan, yang
utama adalah bisa menuangkan minat dalam dunia tulis-menulis, dan
tulisan tersebut bisa memberi manfaat bagi sesama. Bahagia, sebab
ternyata saya makin bisa menikmati segala kemudahan dalam ngeblog.
Semua yang tadinya "rumit" menurut paradigma saya, bisa
disederhanakan, dan hasilnya cukup memuaskan. Sekali lagi, hasil yang
saya maksudkan, apa yang saya tulis, dilihat dari statistik internal
blogger, mendapat audiens yang signifikan jumlahnya.

Bukan tutorial, bukan panduan, apalagi rujukan, hanya tips berikut
ini, cara untuk menjadikan ngeblog lebih sederhana dan lebih
menyenangkan, (step by step menurut pengalaman saya) mungkin
sedikitnya bisa bermanfaat juga, terutama yang sama-sama pemula dalam
"blogging".

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT BLOG

1. Awalnya, tentukan tujuan ngeblog, tentukan juga tema konten yang
akan kita tulis. Makin fokus kepada hal yang kita kuasai, makin baik.

2. Buatlah blog ( blogspot, wordpress, blogdetik, mywapblog, dll).
Judul dan alamat blog sebaiknya berhubungan dengan tema konten yang
kita inginkan.

3. Cari tema/template yang memenuhi kualifikasi mesin pencari, antara lain :
- loadingnya cepat/ ringan
- sederhana
- sebaiknya berlatar belakang putih
- resfonsif, artinya diakses dari perangkat apapun, blog kita
tampilannya akan menyesuaikan dengan sendirinya.

4. Sudah dibuat blognya, langkah berikutnya, DAFTARKAN alamat blog ke
Google Webmaster Tools dan Bing Webmaster. Cukup dua saja, karena
"search engine" yang lainnya akan merujuk ke dua "search engine"
tersebut.

YANG WAJIB DILAKUKAN :

1. Buatlah konten/artikel, asli buatan sendiri. Jika ternyata mau
menyadur dari karya orang lain, berilah artikel tambahan buah fikiran
kita. Dan jangan lupa cantumkan sumbernya.

2. Tetap teraturlah memposting artikel, kalau bisa sesuai jadwal yang
kita tentukan. Dan, tak kalah penting, tetaplah dengan tema blog yang
telah ditetapkan.

3. Memasang widget yang perlu-perlu saja, misalnya recent post,
popular post, random post.

4. Sebaiknya, menjadikan Google+ menjadi widget komentar. Menurut saya
ini aman dari spam. Komentar default blogger, rentan dengan komentar
yang mengandung link aktif spammer, yang justru mengurangi
kredibilitas blog kita.

YANG HARUS DIHINDARI :
1. Gonta-ganti template. Menurut pengalaman saya, hal tersebut
mempengaruhi kuantitas kunjungan ke blog kita.

2. Men-submitt blog ke auto submitter dengan harapan meningkatkan
popularitas. Google membenci optimasi blog secara berlebihan. Mesin
pencari ini menyukai blog yang tumbuh secara alami.

3. Memasang widget yang berlebihan dan kurang diperlukan. Selain
menambah berat blog, terkadang widget yang tidak relevan, justru
membosankan bagi pengunjung. Bila ini terjadi, yang rugi kita sendiri.

4. Menge-PING berlebihan, karena bisa dianggap spam ke mesin pencari.
Nge-ping, tujuan awalnya adalah memberitahukan beberapa direktori
tentang artikel terbaru kita. Namun jika berlebihan, akan dianggap
spam.

BAGAIMANA AGAR NGEBLOG ENJOY DAN MUDAH?

1. Manfaatkan fasilitas yang kita miliki. Misal, bagi pengguna Android
dan Blackberry, bisa menginstall aplikasi "BLOGGER", " WORDPRESS",
"BLOB", dll. Dengan aplikasi ini ngeblog jadi mudah. Bagi pengguna
Nokia Lumia dan yang versinya setara, bisa juga menginstall Blob.

Bagaimana dengan yang hanya memiliki handphone java? Bisa. Siapkan 3
hal, pertama hp nya, kedua aplikasi UC Browser, dan aplikasi gmail.
Pengiriman artikel ke blog, bisa lewat email pada UC browser. Mengapa
UC Browser? Artikel yang kita kirim bisa dilampiri foto, sedangkan
browser lainnya tidak bisa.

Posting artikel juga bisa melalui SMS. silakan atur dulu di dasbor
blog supaya kita bisa mengirim artikel melalui SMS.

2. Jadikan ngeblog sebagai hobby, jangan uang dulu tujuannya. Semakin
terkenal blog kita, kemungkinan besar akan menarik advertiser untuk
memasang iklan mereka di blog kita. Jadi, " be calm" saja.

3. Berusaha peka. Setiap fenomena, setiap hal yang kita alami, bisa
menjadi bahan fikiran untuk blog kita. Bahkan ketika sedang jajan baso
pun, bila "sense of write" tinggi, kita akan bisa membuat artikel.

Ya, cukup sekian d